Makanan Sisa Sepotong: Fenomena Saat Makan Bersama yang Sebabkan Food Waste
Saat makan bersama teman maupun kerabat, sering kali hampir seluruh makanan habis dikonsumsi, kecuali sepotong makanan terakhir yang tersisa di piring. Sisa makanan tersebut biasa dibiarkan oleh orang-orang, bahkan tak tersentuh sama sekali. Fenomena ini sering disebut sebagai “the last piece dilemma”, atau “dilema sepotong makanan terakhir”. Fenomena ini biasa terjadi pada makanan yang bisa dibagi dalam satu piring, seperti gorengan, kue, pizza, dan sebagainya.
Fenomena ini terjadi di berbagai negara. Di Jerman, fenomena ini disebut “andstandreste/andstandstück” yang artinya “potongan yang tidak terambil”. Di Swedia, fenomena ini disebut “trivselbit” yang artinya “potongan yang telah diamankan”. Beberapa negara juga mengasosiasikan sisa makanan tersebut dengan istilah yang mengandung arti “memalukan” atau “rasa sungkan”. Contohnya seperti di Spanyol (“la vergüenza” yang artinya “memalukan”), di Filipina (“the shame pieces”), di Singapura (“paiseh” yang artinya “malu”), dan di Jepang (“enryo no katamari” yang artinya “rasa sungkan”) (Filimonau et al., 2025).
Berdasarkan makna istilah-istilah tersebut, dapat disimpulkan bahwa fenomena ini sangat erat kaitannya dengan norma dan etika. Makna tersebut seolah menyiratkan keharusan seseorang untuk bersikap “malu” dan “sungkan” jika ingin mengambil potongan makanan terakhir. Hal ini juga dibenarkan oleh pendapat ahli etiket yang menjelaskan pentingnya etika untuk mendahulukan orang lain mengambil potongan terakhir (Sari, 2024). Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya persepsi negatif terhadap orang yang mengambil potongan terakhir (Reinan, 2019). Namun, apabila dibiarkan, bukankah kebiasaan ini akan menyebabkan food waste?
Hampir semua jenis pertemuan publik, termasuk perayaan dan acara kebudayaan yang menyediakan jamuan makanan, berisiko tinggi menimbulkan pemborosan (Cavallin Toscani et al., 2024). Jumlah food waste yang dihasilkan dari berbagai macam pertemuan ini juga cukup signifikan. Masalah ini semakin parah apabila terjadi di negara berkembang yang masih menjadikan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sebagai langkah utama menangani food waste (Phasha et al., 2020).
Meskipun belum ada penelitian yang membahas keterkaitan secara langsung antara fenomena “the last piece dilemma” dengan jumlah food waste yang dihasilkan, Filimonau et al. (2025) mengeksplorasi penyebab utama terjadinya fenomena ini, dan mengaitkannya dengan kepedulian individu terhadap food waste.
Model Theory of Planned Behaviour Penyebab Fenomena “The Last Piece Dilemma” (Filimonau et al., 2025)
Hasil penelitian Filimonau et al. (2025) menunjukkan bahwa faktor utama yang menyebabkan fenomena “the last piece dilemma” secara signifikan adalah anticipated shame dan conflict avoidance. Anticipated shame merupakan perasaan malu yang muncul atas kejadian yang belum terjadi. Kekhawatiran ini muncul akibat perasaan khawatir dianggap egois, takut dinilai negatif oleh orang lain—terutama orang yang tidak terlalu akrab, dan takut melanggar aturan etiket yang berlaku. Sementara itu, conflict avoidance muncul karena rasa khawatir apabila ada orang lain yang masih lapar/menginginkan makanan tersebut, yang menyebabkan orang lain memberikan impresi negatif terhadap dirinya sehingga memengaruhi relasi yang sedang dibangun pada pertemuan itu.
Di sisi lain, kepedulian terhadap food waste ternyata dapat mendorong niat untuk mengonsumsi potongan terakhir, terutama pada kategori responden yang berpendidikan dan berpenghasilan tinggi. Namun, niat ini belum cukup signifikan untuk mendorong sikap/attitude untuk mengonsumsi potongan makanan terakhir.
Untuk mengatasi dilema ini, Filimonau et al. (2025) menyarankan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh penyelenggara acara/penyedia makanan. Penyelenggara dapat memberi label berupa himbauan untuk tidak menyisakan makanan. Selain itu, pemberian insentif, seperti kupon minuman gratis, juga dapat diberikan kepada tamu yang memakan potongan terakhir. Usulan lain seperti memodifikasi acara menjadi bentuk permainan juga dapat dilakukan. Contohnya dengan memberikan hadiah kepada kelompok/meja dengan sisa makanan paling sedikit. Penyelenggara juga dapat membuat narasi lain terhadap moral dan etika yang tidak bertentangan dengan pencegahan food waste, seperti narasi “menyisakan makanan di piring berarti menandakan makanannya kurang dinikmati”, serta narasi bahwa “penyelenggara akan senang jika semua makanan bisa dihabiskan”.
Referensi
Cavallin Toscani, A., Vendraminelli, L., & Vinelli, A. (2024). Environmental sustainability in the event industry: a systematic review and a research agenda. Journal of Sustainable Tourism, 1, 1–7. https://doi.org/10.1080/09669582.2024.2309544
Filimonau, V., Matute, J., Sezerel, H., & Balyalı, T. Ö. (2025). Food waste in group dining: the interplay of shame and conflict aversion in the “last piece of food” dilemma. Journal of Sustainable Tourism ISSN: https://doi.org/10.1080/09669582.2025.2453689
Phasha, L., Molelekwa, G. F., Mokgobu, M. I., Morodi, T. J., Mokoena, M. M., & Mudau, L. S. (2020). Influence of cultural practices on food waste in South Africa - A review. Journal of Ethnic Foods, 7(1). https://doi.org/10.1186/s42779-020-00066-0
Reinan, J. (2019). For the love of Prince, why won’t anyone take the last piece of food? https://www2.startribune.com/why-won-t-anyone-in-minnesota-take-the-last-piece-of-food/510139261/?refresh=true
Sari, Y. M. (2024). Suka Sungkan Saat Makanan Tinggal Sepotong? Ini Saran Ahli Etiket. https://www.detik.com/jabar/berita/d-7579717/suka-sungkan-saat-makanan-tinggal-sepotong-ini-saran-ahli-etiket